Liputan6.com, Jakarta Gas air mata memiliki masa expired yang bisa dilihat pada kemasan. Lalu, apakah beda efeknya dengan yang tidak kedaluwarsa?
Terkait hal ini, farmakolog, Prof. Zullies Ikawati, PhD, Pharm mengatakan bahwa untuk mengetahui dampak gas air mata, maka perlu diketahui dulu kandungan gas air matanya.
“Senyawa aktif yang paling sering digunakan adalah CS gas (2-chlorobenzylidene malononitrile) itu paling umum. Ada juga yang menggunakan OC (oleoresin capsicum),” kata Zullies kepada Health Liputan6.com, Jumat (29/8/2025) lewat pesan tertulis.
Zullies tak memungkiri, produk gas air mata dalam tabung punya masa kedaluwarsa karena pelarut dan bahan pendorong (propelan) bisa menurun tekanannya, serta senyawa kimianya bisa terdegradasi.
“Bila sudah lama, mungkin terjadi perubahan kimia, bisa terbentuk produk samping yang lebih iritan atau bahkan beracun (misalnya degradasi CS bisa menghasilkan senyawa klorinasi lain),” ujarnya.
Efek di tubuh tetap mirip dengan gas air mata yang belum kedaluwarsa. Ini dapat berupa iritasi mata, hidung, tenggorokan, sesak napas, batuk, mual.
“Tetapi jika ada produk degradasi, bisa menimbulkan iritasi kulit/paru lebih berat,” Zullies menjelaskan.
Aksi unjuk rasa di kompleks DPR Senayan diwarnai kericuhan. Massa dihalau aparat dengan tembakan gaś air mata. Demo dipicu isu terkait tunjangan DPR yang dinilai tidak sensitif dengan kondisi sulit masyarakat.